Kamis, 22 Agustus 2013

Lagi2 adat

Siang ini, seperti biasa curcolan sama ibunda tercinta, pembicaraan dimulai dari 'penyelidikan' bunda pada teman2 yang kadang stalker nggak jelas. Dan hingga akhirnya kamipun membahas adat pernikahan jawa yang identik dengan kembar mayang. Entah kenapa yang jelas lagi musim orang punya hajatan ba'da lebaran ini. Dan, kebiasaan buruk saya kalo sudah ngobrol bakal kemana-mana. Back to topic, berbicara adat jawa apalagi kembar mayang maka itu adalah hal yang dianggap paling saklek sama para orang terdahulu, ketika saya tanya, "kenapa harus pakai mbah?", "tujuannya buat apa bulek?", mereka bakal jawab "ini ajaran nenek moyang dulu", yang parah jika ada ungkapan, "kalo nggak pake kembar mayang nanti pernikahannya bakal begini dan begitu", na'udzubillah...ucapan seperti ini kan secara kita sadari atau tidak mengarah pada keyakinan bahwa kalo nggak pake ini nanti bakal gini, astaghfirullah...(semoga Allah menjaga kita)
Hal lain yang membuat saya kurang pas (dari nikahan sepupu), ketika sore sebelum akad nikah ada 'dongke' alias kyai atau apalah namanya datang ke rumah calon mempelai wanita lalu menyiram air ke sekeliling rumah aka pager2 istilah jawanya sambil komat-kamit gitu. Pernah saya papasan sama orang yang pager2...ee dicuekin saya saking konsennya tuh bapak. Ada lagi istilahnya nebus kembar mayang dan sebagainya yang rumit menurut saya...kemudian ketika akad selesai dan keesokannya kedua pengantin dipertemukan ada istilah tukar kembar mayang. Pas ini asli saya nggak ngeh maksudnya, dan hanya beberapa detik ditukar si kembar mayang sudah bisa dibuang (habis manis sepah dibuang bahasa korenya :D ) Saya tidak ingin menyalahkan, tapi apa sih esensi dan manfaat yang diperoleh? apa sekedar mengikuti nenek moyang? bagaimana jika tidak menggunakannya? bukankah di perkotaan hal ini jarang sekali ada? dan bagaimana bisa untuk momen sesakral pernikahan yang disebut mitsaqan ghaliza (perjanjian yang berat) yang kita sungguh mengharap berkah dan ridha Allah tapi terwarnai dengan ritual2 yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah? Masya Allah... Kembali saya dibuat merenung, dan tak henti saya memohon pada Allah, semoga ketika saya menikah kelak, dimudahkan dan dijauhkan dari ritual yang jauh dari ke-syar'an, mungkin jika harus berjuang keras, semoga tercipta pernikahan yang syar'i. Pernikahan kan inshaAllah sekali seumur hidup, apa iya akan kita warnai dengan kemubaziran? Bukankah lebih afdhal jika uang itu disedekahkan saja biar tambah lancar acaranaya....?
hufft....terkadang berbicara dengan orang yang kebih tua dan beda zaman itu agak susah dan harus hati-hati, salah dikit bisa berabe, yang dikira sok pinter padahal masih bau kencur dan sebagainya dan sebagainya.... Finally, semoga teman2 yang akan segera menikah dimudahkan, yang berusaha memegang ke'syarian dikuatkan menjaga proses hingga mampu menggapai keridhaan Allah....yups..apalah artinya kalo Allah gak ridha, semewah dan seelegan apapun sebuah acara di buat. --edisi gemes#my lovely room--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar