Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2013

Tentang sekolah

Sekolah, saat ini saya sedang tertarik dengan dunia pendidikan, dan impian saya ingin menjadi pengajar dan pendidik sampai kapanpun, inshaAllah.

Menjadi pengajar yang tidak sekedar mentransformasikan ilmu tapi juga memperbaiki akhlak dan mendidik yang tidak sekedar menghasilkan lulusan yang berotak namun juga berakhlak dan beretika.

Kembali ke topik, beberapa waktu lalu saya masih aktif mengajar di sebuah kampus vokasi swasta, kebetulan beberapa kali saya pegang kelas semester baru alias maba. Tempat saya mengajar bisa dikatakan daerah dengan tingkat kelulusan uan yang tidak terlalu bagus tapi saya percaya masih banyak anak2 special dan cerdas yang bisa terserap di tempat saya mengajar. Dan ketika matrikulasipun memang saya dibuat tercengang dengan kesenjangan kemampuan di antara mereka. Bagaimana tidak jika materi fisika dan matematika dasar yang saya berikan sekian persen mampu mengikuti namun sekian persen bener2 menggemaskan. Kenapa begitu? Hanya untuk hitungan dasar ada anak yang benar2 kesulitan dan harus menggunakan alat bantu kalkulator. Kemudian saya berfikir kenapa bisa lulus uan? Dulu diajarin apa saja di sekolahnya? Seperti apa mutu sekolahnya dari segi pengajar dan sistem belajar? Dan memang dari informasi beberapa memang anak daerah tapi ada juga anak non daerah. Dan jelas saja hal ini akan sangat menghambat proses belajar karena mereka yang levelnya jauh dari level seharusnya memang berkebutuhan khusus, harus dibimbing perlahan, tapi dengan model universitas agak susah membuat treatmen seperti sekolah pasalnya di sini mereka dituntut untuk mandiri. Dan benar saja meski saya coba menghinghidupkan kelas, memberi perhatian khusus agar tak ketinggalan tetap saja sulit...endingnya ip bawah juga...namun, bukan mereka tidak punya kelebihan, justru mereka rajin dan punya skill di bidang tertentu seperti masalah mesin atau jaringan komputer. Meski ip ngepres setidaknya ada skill yang bisa mereka banggakan.

Di lain sisi, pasca resign saya menyibukkan mengajar privat, murid saya terdiri dari SD hingga SMP. Di sini beraneka juga, ada yang pandai dari sananya ada juga yang pandai karena rajin dan ada yang minta ampun susahnya. Mulailah saya selidik bagaimana mereka di rumah, bagaimana mereka di sekolah. Ada yang di rumah orang tua angkat tangan dengan belajar anak2nya, ada yang gak mau diajarin orang tua, ada yang harus berkelahi dulu jika disuruh belajar, makanya mereka belajar dengan saya. Beberapa anak juga saya tanya tentang cara pengajaran guru2 mereka, ada yang jarang masuk dengan alasan a-z, ada yang sukanya kebut2an dengan soal LKS, ada yang cuma dikasih tugas dan ada yang suka mengancam, parahnya ada yang satu guru merangkap semua mata pelajaran yang menurut saya bisa tidak optimal. Weleh2,,, kalo begini ya pantas aja saya kesulitan mengajar anak2 kemampuan khusus saat di perguruan tinggi.

Jika beberapa guru hanya mengandalkan output siswa dengan sebatas standar nilai, saya yakin dan memang ada pd siswa sy, mereka belajar ya karena nilai aja tanpa mau membaca dan memahami materi, asal latihan soal penuh, yang parah, betul atau salah yang penting tidak dihukum sama gurunya. Selain itu pertanyaan saya, koq bisa lulus unas ya terjawab, seperti kasus2 unas di teve..sy rasa sudah menjadi rahasia umum.

Kemudian saya diskusi dengan sohib..anak negeri kita pintar2, cerdas tapi sangat memprihatinkan bagi yang berada di daerah dengan fasilitas yang minim, tenaga pengajar yang sedikit karena jauh dan terpelosok, dan lain sebagainya yang saya rasa begitu kompleks. Tapi, saya salut dengan anak2 daerah yang kadang terbatas tapi tetap semangat dan cerdas namun kadang impian harus kandas, kadang juga gemes dengan anak2 yang semua fasilitas ada tapi ogah2an sekolah.

Kembali ke topik, pendidikan mencakup berbagai unsur penunjang kesuksesan, ada peran orang tua yang menjadi dasar tumbuh kembang kecerdasan dan perilaku anak, ada peran sekolah dan guru yang memberikan pendidikan formal di sekolah, ada pihak sekolah yang memberikan fasilitas dan program penunjang serta pemerintah, yang masing2 memiliki posisi dan peran yang berbeda. Tentang kurikulum, anak2 berkebutuhan khusus dan sebagainya yang sangat kompleks.

Negaraku, negara kaya, tidak hanya kaya potensi SDM tapi juga SDA, namun masih sayang masih banyak anak2 yang sulit mengecap pendidikan dengan layak utamanya daerah pelosok. Dan saya berapresiasi tinggi kepada para guru yang penuh dedikasi yang tak hanya mengejar sertifikasi tapi juga memberika pendidikan dan pengajaran terbaik bagi para anak didiknya, yang tak sekedar membuat anak berotak cemerlang tapi juga berakhlak bintang...

Hm....orang tua, guru, sekolah, pemerintah...takkan berjalan baik tanpa sinergi yang baik. Karena seorang anak bintang tak hanya dari keluarga bintang tapi juga dari sekolah dan guru2 yang bintang juga...sehingga ia kan berkilau membangun bangsa ini ^^v

#Sarapanpagii

Kamis, 06 Desember 2012

Pada Gerbong Kereta

Pada sebuah gerbong kereta saya duduk di dekat jendela. Menatap tiap detail panorama yang lewat. Menghirup aroma persawahan yang hijau. Sore itu untuk pertamakalinya saya mbolang sendirian. Pulang ke rumah orang tua di sebuah kabupaten di jawa timur. Perjalanan sendiri sudah sering saya lakukan, sehingga tidak terasa begitu berat walaupun rute kali ini tidak terlalu saya hapal karena pertama kalinya dengan kereta api dari ibukota.

Perjalanan sendiri, seperti biasanya sekedar say hello atau mengobrol dengan teman sebangku. Terkadang juga menyibukkan diri dengan musik dan buku jika tetangga perjalanan telah terlelap. Perjalanan dengan kereta ai itu menyenangkan jika dilakukan pagi dan siang hari karena pemandangan luar benar-benar bisa dinikmati. Tapi, untuk perjalanan kali ini yang menhabiskan malam hari, maka tak ada pilihan lain selain bersenandung bersama kumpulan nasyid dan murattal di HP.

Penyakit saya dikereta atau di kendaraan adalah tidak bisa tidur. Walaupun susah payah mata terpejam, apalah daya, sensor tetap bekerja. Akhirnya, hanya bisa pasrah menatap orang-orang yang terlelap.

Pukul setengah satu pagi, kereta berhenti di satu stasiun. Dari luar terdengar para pedagang asongan yang hingga dini hari masih berteriak menjajakan dagangannya. Nasi pecal, kopi, teh, wingko babat dan lain sebagainya. Mereka masih berjuang dikala orang-orang telah beristirahat di kasur yang empuk. Jangan dikira mereka yang berjualan itu hanya para kaum adam yang masih kuat fisik, melainkan tak sedikit para ibu atau wanita paruh baya yang masih terjaga. Subhanallah...Ya Rabb, begitu banyak syukur yang harus terlantun. Betapa banyak nikmat yang Allah limpahkan, semoga Allah jaga diri ini dalah kesyukuran.

Pukul tiga pagi, ketika saya membuka mata, saya dapati seorang tetangga perjalanan juga terbangun, sepertinya bergegas ke toilet. Saya pun tidak mau tau dan kembali memejamkan mata walau tak kan bisa tidur juga. Beberapa menit kemudian, saya kembali membuka mata dan mendapati tetangga perjalanan yang terbangun tadi Qiyamul Lail....Subhanallah....ada haru menelusup. Allah, ditengah perjalanan yang melelahkan seperti ini, dimana para penghuni kereta tengah lelap, masih ada yang terbangun untuk bersujud kepadaMu. Sayapun memejamkan mata kembali, bukan untuk tidur melainkan merenung, menyadari, betapa kecilnya saya, dan betapa jauhnya saya dari Allah. Tetangga saya qiyamul lail, saya tak beranjak dari tempat duduk.

Perjalanan kali ini memberikan energi positif, alhamdulillah...energi QL tetangga perjalanan tadi memberikan magnet yang mampu mengisi sedikit energi, memberikan sebuah perenungan, bahwa di manapun kita berada, selalulah ingat Allah, di kala lapang maupun sempit, saat duduk mauapun berbaring.

Tetangga saya itu begitu biasa kelihatannya, tapi Subhanallah...begitu luar biasa ibadahnya...Semoga Allah menjadikannya seorang yang selalu berada dalam limpahan Rahmat dan keberkahanNya. Semoga Allah kabulkan doa dan harapannya.


Pada gerbong kereta, ada banyak hikmah dan pembelajaran yang saya dapatkan. Bahwa saya harus bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya, bahwa kita harus selalu memperbaiki diri dimanapun dan kapanpun. Ingatlah Allah di kala lapang dan sempit. Semoga di perjalanan berikutnya banyak hikmah dan pelajaran yang kembali bisa di ambil. Semoga selalu ada energi positif yang bisa diserap.

Pada gerbong kereta ini, pada perjalanan kali ini, Alhamdulillah Allah berikan hikmah dan pelajaran memalui seorang tetangga seperjalanan dan melalui para pedagang asongan.



Rabu, 05 Desember 2012

Aku dan Pulau bernama Aceh

Tak terasa dua tahun lima bulan sudah berada di pulau bernama Aceh. Pulau paling ujung indonesia yang dulu terkenal dengan sebutan DOM alias daerah operasi militer. Dan pulau yang juga diterjang tsunami tahun 2004 silam.

Dua tahun lalu, keputusan untuk ke aceh begitu bulat. Dengan pancaran semangat dan niat pengabdian maka kakipun mantap menerima tawaran menjadi pengajar di salah satu politeknik di aceh.Dua tahun lalu kaki masih terasa ringan untuk menetap disini tanpa saudara..apa mau dikata, namanya juga sedang bersemangat '45.

Aceh, daerah yang terdiri dari berbagai etnis, jawa, cina, india, arab, turki dan lain sebagainya. Daerah yang menerapkan prinsip2 syariat islam pada kehidupan masyarakatnya. Di sini akan sangat jarang sekali dijumpai wanita tanpa jilbab, bahkan anak kecil sekalipun telah wajib berjilbab sejak sekolah dasar. Benar-benar mengagumnkan. Walaupun belum semuanya terwarnai dengan syariat paling tidak aceh telah merupaya membangun daerah bersyariat islam.

Dari segi bahasa sendiri amat sulit mempelajari bahasa aceh. Dari segi penduduk, ada beragam tipe orang di aceh, tak jauh beda dengan di jawa. Sedangkan dari segi makanan...berat...dengan makanan khas berkadar leak dan kolestrol tinggi.

Aceh...satu alasanku bertahan mungkin satu, niat untuk mengabdi pada dunia pendidikan, hingga hampir 2,5tahun bertahan...

Sekarang, mulai terasa berat tinggal di aceh tanpa ada satupun keluarga...Yah, walau bagaimanapun juga keluarga memang segalanya, ayah , bunda dan adik di sana.....

Sekarang, kembalikan dulu niat, jaga dulu semangat mari mengabdi di aceh dan merancang untuk kembali mengabdi di jawa.... :D

Rabu, 20 Juni 2012

Sudah sifatnya manusia, jika iman dalam dirinya selalu naik dan turun. Saat naik, maka ia kan berada pada kuadran positif dan bersemangat tinggi untuk melakukan kebaikan, sebaliknya saat ia turun atau dikenal dengan istilah futur maka semangat yang tadi naik mengalami pelemahan dan menurun, bisa jadi turunnya hanya sedikit dan malah bisa jadi drastis -- astaghfirullah-- Teringah tausiyah dosen saya ketika kuliah dulu, jika kalian futur, minimal jangan turun melebihi batas nol hingga ke kuadran negatif, tetaplah bertahan di titik terendah kuadran positif, kenapa? karena saat ia berada di kkuadran negatif akan sangat sulit sekali untuk naik ke kuadran positif.

Futur atau lemah semangat itu dapat menyerah siapa saja. Di sinilah terkadang kita perlu sendiri merenungi kembali apa yang telah kita lakukan, memulihkan kembali kepingan semangat yang tercerai. Dan, di kala futur, keberadaan orang yang dapat memberikan nasihat pada kita amatlah penting. Sahabat, yang mengingatkan kala kita futur agar kembali untuk mendekat kepada Allah. Keberadaan sahabat sangat berperan karena kita adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri dari bantuan orang lain.

 

Futur, keberadaannya kadang membuat diri merasa kesepian
Membuat hati merasa usang
Ingin mencari pelarian
Padahal, sesungguhnya ada Allah yang selalu dekat
tapi terkadang kesalahan mensiasati membuatnya kian berlarut
Padahal, ada al-qur'an sebagai obat lemah iman
Padahal, ada saudara seiman yang dapat dijadikan katalis

Di kala futur, ada Allah tempat mengadu
Dan yang tak kan pernah bosan mendengar keluh dan doa hamba-hambaNya
Kala futur, bukan pelarian yang harusnya di cari
tapi, ada alqur'an yang harusnya ditadaburi
Untuk melembutkan hati
Kala futur, harusnya bukan menghindari orang-orang sholeh
tapi mendekatinya untuk mencari sprektrum semangat
meminta nasihat dan doa
kala futur, adalah saat yang tepat untuk berintrospeksi diri
atas semua dosa yang melemahkan iman
yang mengeraskan hati
Kala futur, sudah selayaknya istighfar dan dzikir diperbanyak...


Hasbunallah....Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, Jagalah hati ini dalam ketaqwaan kepadaMu dan keistiqamahan di jalanMu


**semangat mengobati hati yang futur**


----Banda aceh, juni 2012----

Senin, 11 Juni 2012

Kejujuran itu, dimana??

         

Banyak orang mengatakan, "mencari orang jujur itu susah di zaman sekarang". Saya iyakan, jujur di sini tak hanya sebatas jujur perkataan, tapi juga jujur perbuatan. Mengapa perbuatan??
Sekedar miris bercampur mangkel ketika mendapati beberapa orang dengan seenaknya absen pagi, kemudian keluar lagi dan entah jam berapa akan kembali lagi ke kantor. Seperti juga pagi ini dan beberapa pagi yang lalu, ketika saya mendapati 'beberapa yang tak etis disebutkan namanya' datang absen kemudian entah kemana, pun saat jam pulang kantor, datang, absen pulang, entah sempat mampir ke kantor atau tidak. 
Yang membuat saya miris, mereka orang-orang berpendidikan, yang sudah kenyang mengecap mata kuliah agama, pancasila dan kewarganegaraan, apa masih kurang?? atau memang begitulah dunia nyata? dimana ideologi dan prinsip begitu mudah tergerus?? (istighfar)
jam kantor telah ditetapkan, ada mekanisme perizinan, lantas apa karena takut terhitung banyak telat, kena teguran atasan, tapi kita membohongi hati nurani? Kalo berniat ontime selalu kenapa tidak sengaja datang awal saja, tak perlulah 'mengakali' segala. memang orang lain tidak tahu, tapi ada Allah, ada dua malaikat yang selalu mencatat tindak-tanduk kita...loh......huffttttttt......rasanya pagi ini gerah sekali....

Harusnya mereka berfikir, bahwa ketidakjujuran itu efeknya tak hanya sekarang, tapi juga mendatang, tak hanya bagi dirinya tapi juga generasinya kelak.

Saya setuju dengan kebijakan kantor untuk memberikan peringatan kepada 'mereka yang sering telat' tapi jika tidak ada follow upnya, tidak ada mekanisme pengawasan, saya rasa efeknya bisa jadi kinerja secara tertulis baik namun kinerja secara akhlak bertambah buruk.



Semoga saja Allah berikan hidayah bagi mereka yang saat ini belum terbuka pintu hatinya untuk jujur secara perbuatan....




*Ruang kerjaku yang nyaman, juni 2012