Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2011

Rahasia Tarisa


Pagi yang cukup cerah, tapi  udara masih terasa dingin oleh kabut yang enggan pergi meski mentari kian naik. Suasana kelas masih sepi, hanya derap langkahku yang terdengar pelan. Kuletakkan tasku di deretan bangku nomor dua. Sengaja kupilih karena sangat strategis pada saat ulangan. Terutama pada jam kimia. Pak Marwoto guru kimia yang terkenal killer selalu saja memperhatikan jawaban para makhluk yang duduk di deretan depan dan mengomentarinya dengan pedas. Seperti suatu ketika ulangan bab hidrokarbon. Dia tertawa dengan pekerjaan Dion yang tidak bisa menyelesaikan reaksi subtitusi dan eliminasi. Dan Pak Marwoto pun memperoloknya. Kontan saja Dion langsung keok dan kapok duduk di depan. Memang sih Dion tergolong siswa grade bawah di kelas tapi bukan begitu caranya. Aku menngerutu sendiri.
Sejak itu tiap kali ulangan para jawara kelaslah yang mengalah duduk  di deretan kursi panas itu. Tap...tap langkah kaki terdengar memasuki kelas. Reflek aku mendongak sambil tersenyunm. Sosok Tarisa , gadis berkacamata minus itu menyembul. Dia membalas senyumku. Manis dengan lesung pipit di pipinya. Ditaruhnya tas alto miliknya di bangku pojok depan, maklumlah dia salah satu jawara kelas.
Tak terlalu kuhiraukan dia, sosoknya yang menurutku sedikit angkuh dan pendiam membuat penghuni kelas agak malas padanya. Sebelum tenggelam dengan buku kimiaku, kulirik dia yang tengah berkutat dengan buku kimia pula. Huh,  kuakui dia memang rajin dan pandai hampir dalam semua mata pelajaran kecuali olahraga. Hening. Tapi tak lama kemudian penghuni yang lain berdatangan dengan berbagai tampang. Ada yang emang udah pembawaanya nyantai jadi walau bumi berguncangpun tetap nyantai, ada yang terlihat stres dengan wajah yang masih mengantuk karena wayangan tapi ada pula yang datang langsung menggerutu tanpa sebab. Dasar II-4 tetap saja tak berubah. Aneh.
Bel berbunyi. Huuuuuuuuuuuuuuu.....!!! kompak seisi kelas berkoor, bukan karena ulangan kimia akan segera dimulai tapi karena tampang kucel Roy yang menyembul sambil menirukan gaya bintang indonesian idol yamg disusul gelak tawa dan lemparan kertas.
” Pagi semua” Pak killer masuk dengan setumpuk soal ulangan.
”Pagi juga pak” balas penghuni kelas nakal.
”Silakan absen bawah keluar” katanya seraya berdiri dan membagikan soal.
Hening, ketika soal menyebar ke pelosok kelas. Yang nekat pingin diskors jam kimia satu semester aja yang berani bersuara plus contek-contekan. Tapi lumayan juga aku jadi bisa mengejar target tanpa harus ditanya jawaban seperti pada ulangan mata pelajaran lain. Segera kukerjakan soal yang minta ampun sulitnya itu hingga tiga puluh menit bersama Pak Marwoto berakhir.
***
Kulipat kertas ulanganku. Seperti perkiraan, hari ini kimiaku dapat delapan lima. Aku menoleh ke bangku Tarisa, kosong. Segera kudekati Joan yang duduk sendiri. ”Hai jo, tarisa mana? Tumben nggak masuk?”
”Iya Da katanya lagi sakit. Darah tingginya kumat”
”Ha! Darah tinggi? Pantesan kebanyakan belajar dan mikir buat masa depan pasti” aku berkomentar asal.
”Tau lah, orang seserius dia emang begitu anak yang introvert. Aku sendiri tak tau apa-apa tentangnya padahal teman sebangku.” suaranya terdengar kesal
“O…hm, giman ulanganmu? Dan…liat nilai si pinter itu donk!”
“Nih, liat sendiri!” dia menyodorkan dua lembar kertas.
“Wah, hebat! Kamu dapat delapan, tapi tumben si Tarisa Cuma dapat tujuh” dahiku berkerut.
“Aku juga heran, biasanya nilai minimal yang dia dapat selalu 85”
Ya udahlah mungkin lagi males belajar dia. Aku segera kembali ke bangku. Aneh pikirku. Ya... Bu Tanti udah masuk! Aku manyun.
 Guru yang mengajar pada satu titik itu masuk, di belakangku terdengar anak-anak juga ngedumel. Bukannya kami benci tapi selama jam pelajaran berlangsung hanya Tarisa yang diajak berdiskusi dan disuruh memberikan pendapat. Jadi serasa kami patung yang mendengarkan Bu Tanti ngelesi Tarisa privat. Tak heran jika ada yang membawa komik tiap selasa, ada juga yang ngerjain tugas jam selanjutnya bahkan ada yang sms-an dengan sang doi di kelas sebelah. Bete... aku berharap pelajaran ini segera usai.
“Ya, coba sekarang jelaskan tentang siklus krebs. Tarisa gambarkan skemanya di depan” Bu Tanti membetulkan letak kacamatanya.
“Nggak masuk Bu.......” koor seisi kelas bak anak TK.
”Kemana? Oh sakit, dia mengambil surat ijin tarisa. Kalau begitu cuba sekarang maju ke depan si pojok” ditunjuknya Roy.
”Delon maju..” teriak Saiful melawak.
”Ya. Delon kamu maju” Bu Tanti menirukan.
Grrrr...Sekelas tertawa, gara-gara gayanya yang menirukan bintang idol itu Roy dijuluki si Delon. Dengan gayanya yang cengar-cengir tapi sok COOLangajal Dia maju. Aku geleng-geleng menahan tawa sampai perutku sakit. Dasar Roy bisa nggak bisa tetep aja PD.
***
Bruk..!!! Kurebahkan badanku ke kasur. Kupejamkan mataku untuk mengusir penat. Ngantuk yang kurasakan saat ini. Tak peduli belum ganti baju aku mulai tidur.
Dinda….ada temenmu. Mama menggoyangkan tubuhku. Dinda bangun, anak ini susah amat dibangunkan. He..., kebiasaan juga pulang sekolah bukannya ganti baju cuci kaki tangan, makan, terus tidur, ini malah sudah ngorok. Ayo bangun! Mama menarikku.
“A... iya ma.. ngantuk banget nih!” aku ngeloyor ke kamar mandi cuci muka.
“Cepetan ...kasihan temennya dah nunggu tu!”?
Tak kuhiraukan suara mama yang terus memarahiku sambil keluar kamar. Siapa sih jam segini nyariin orang tidur. Kusiramkan air pada mukaku. Cepat-cepat aku keluar kamar menuju ruang tamu. Setengah kaget aku tak percaya. Tarisa, ada apa jam segini dia ke sini bukannya dia lagi sakit.
”Sorry Nda aku ganggu istirahatmu” katanya memelas”
”Nggak kok aku berbohong” ternyata sadar juga ya. Hee..
”Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu. Boleh pinjam kamar mu nggak? Kita ngomong di sana”
Aku garu-garuk kelapa eh kepala yang tak gatal lalu mengangguk dan kami beranjak ke kamarku. Aku heran juga nggak biasanya ni anak main ke rumah orang. Biasanya kan disekap di kamar belajar terus. Kugaruk kepalaku yang tidak gatal lagi. ”Duduk...” kataku mempersilakan.
”Dinda..” dia membuka pembicaraan. Aku diam sambil memperhatikannya.
”Akhir-akhir ini aku nggak tenang. Aku selalu dahantui perasaan bersalah pada kalian semua. Maksudku penghuni II-4”
Aku mengangkat alis tak mengerti tapi aku hanya diam membiarkan dia bercerita.
”Aku merasa tertekan dengan semua ini. Aku merasa menjadi orang yang paling buruk di dunia bahkan terkadang aku menyesali mengapa harus terlahir di dunia” nadanya penuh kebencian.
”Nggak boleh begitu Taris...” kugenggam tangannya. ”sekarang tumpahkan saja kesah dalam hatimu, aku siap mendengarkan” aku tersenyum padanya.
”Makasih, itulah kenapa aku kesini karena hanya kamu yang aku percaya selama ini, ya, walaupun aku cuek banget.”
”Aku malu Nda pada diriku, aku sebenarnya bukan orang yang istimewa tapi keluargaku yang menuntutku demikian. Terutama ayahku, Pak Marwoto yang kalian bilang killer itu. Dan memang begitulah ayahku. Apa-apa selalu dituntut untuk perfect terutama masalah akademis. Aku tak dibiarkannya berusaha sesuai keinginan dan kemampuanku”
”Maksudmu?”
”Berbagai hal Nda yang dilakukan ayah agar nilaiku bagus” suaranya meradang. ”Aku malu, karena setiap akan ulangan ayahku selalu mendatangi rumah guru lain untuk memberikanku les privet,  bukan privat mengulang soal atau materi tapi soal yang akan keluar di ulangan” dia menangis.
”Karena itu aku selalu dapat nilai sempurna dan diperhatikan guru. Karena ayah yang dianggap senior di sekolah. Selain itu aku merasa terkungkug karena harus berkutat dengan buku setiap hari. Nggak boleh keluar rumah dengan alasan yang tidak jelas. Aku harus menjadi The Best agar bisa masuk universitas favorite agar Ayah tak malu di depan guru lain katanya ” Dia mengiba.
”Tapi, bukannya ayahmu yang selalu menyemangati muridnya  kerja keras?”
” Iya tapi semuanya bohong Nda, aku benci dan malu punya ayah seperti dia. Ditambah hari ini nilaiku kimia jeblok. Seharian aku tak boleh ke sekolah, aku dimarahi habis-habisan. Katanya aku harus belajar dan hari ini nggak ada ulangan jadi nggak usah masuk.”dia sesenggukan. ”Yang paling parah Ayah selalu ngopy soal ulangan guru lain di ruang komputer kantor ketika sore. Wajar aja nggak ada yang curiga karena ayahku dianggap senior dan memang komputernya juga terbatas jadi ayah tahu persis dimana filenya disimpan.
Aku semakin bingung. Nggak masuk akal. Sebegitukah sosok guru yang sangat kuhormati itu? Penuh dengan kebusukan. Batinku bergemuruh kesal. Ingin memakinya tapi yang kuhadapi saat ini tarisa.
”Jadi, ini jugakah yang membuatmu begitu tertutup dan terkesan angkuh?”
”Hm...” dia mengangguk Aku malu...malu sekali dia tertunduk. Aku memeluknya seolah memberi kekuatan.
”Ya udah Taris, sekarang kamu harus membangun kepercayaan diri dan tunjukin kalo kamu memang bener-nener bisa tanpa harus ditekan dan mengikuti kecurangan ayahmu. Dan cobalah untuk membuktikan bahwa kamu bukan anak kecil, kamu gadis SMA yang berhak mengecap kemerdekaan sebagai anak. Tunjukkan Taris...aku yakin suatu saat ayahmu mengerti dan... ”aku ragu. ”Aku akan meminta bantuan teman-teman yang laen, pasti mereka mau.”
”Benarkah? Makasih Nda” dia memelukku erat sambil menyeka air mata.
”Jangan salah, penghuni II-4 tak seburuk yang kau bayangkan, hanya sikapmu saja yang menciptakan image buruk pada mereka. Mereka sering bilang begitu kok padaku.”
Senyumnya mulai terkembang.
”Tapi, ada satu hal lagi. Kamu harus merubah image penghuni II-4. Jadilah dirimu sendiri. Tarisa yang nggak  super introvert plus cuek bebek. Ok!”
 Sore itu angin berembus melalui celah jendela. Semilir dan menyejukkan. Kutatap sekali lagi wajah Tarisa, yah, semoga saja kamu berhasil Taris. Akan kubantu dengan doa dan tentunya akan ada aksi yang membuat segalanya  berubah. Aku tersenyum kecut teringat sosok Pak marwoto dengan uban dan kacamat minusnya.
***
Badai mulai berakhir, itulah yang terjadi saat ini. Gerombolan anak II-4 dalam aksi rahasianya yang mendekati para guru untuk menyadarkan Pak Marwoto berhasil walau agak berbelit-belit dengan berbagai alasan tak masuk akal dari pihak guru. Tapi, Pak Marwoto sadar juga dengan kesalahannya selama ini.
Dan Tarisa dia sudah dapat menerima kehadiran makhluk di sekelilingnya dan tentu diterima pula sebagai Tarisa yang periang dan cerdas. Sebenarnya dia memang cerdas seandainya Pak Marwoto tak melakukan kecurangan dan membuang banyak uang itu.
H...h.... aku menarik napas. Lega juga dapat membantu Tarisa.
”Pagi Semua...” Pak marwoto masuk.
”Ups” seisi kelas kaget.
”Pagi Pak...” terdengar  datar. Ada rasa sungkan dari nada sapaan kali ini.
”Sekarang buka bab karbohidrat, lemak dan minyak”. Suara Pak Marwoto terdengar ramah. ”Lo? Kok tegang semua? Lupa ya dengan 3S yang saya berikan dulu” dipandangnya seisi kelas.
”Serius, santai, sukses.....” jawab kami serempak sambil tersenyum.
Pak Marwoto tersenyum hangat seolah ingin mengabari seisi kelas bahwa yang berdiri sekarang adalah Pak marwoto yang baru. Karena tahunnya juga baru mungkin.
Ada kelegaan di hati penghuni II-4 dan dengan serunya pelajaran kimia kali ini berlangsung. Sesekali terdengar gelak tawa, tapi tetap tak mengurangi prinsip kedisiplinan yang diterapkan Pak Marwoto.Angin semilir berhembus dari jendela yang terbuka. Kicau burung gereja yang bersarang di celah atap kelas terdengar riang seolah ingin mengabarkan bahwa pak marwoto telah berubah sebagai sosok yang benar-benar mengagumkan.

******

Roy


Siang begitu gerah, mentari rupanya enggan untuk sekedar berteduh di balik awan. Sesekali pemuda itu menyeka keringat yang sedari tadi mengucur di dahinya. Sembari mendesah karena kakinya tak jua menemukan pijakan. benar-benar pengorbanan. Pikirnya. Pasalnya, sedari pagi berdiri mondar-mandir di trotoar terminal. Jualan Koran, kerjaan barunya, kalo nggak gitu ngamen. Lumayan bisa buat mengganjal perut yang terus berteriak tak karuhan.
            “Roy!!!” Sebuah suara memanggil. Reflek kepalanya menoleh.
            Bang Jon, ketua asosiasi pengamen melambaikan tangan sembari berlari kecil ke arahnya.
            “Lo dicari tarmo! Nggak tau kenapa. Cepetan siapa tau ada orderan baru.” ujarnya dengan napas tersengal-sengal.
            Tanpa pikir dua kali Roy segera beranjak dari hadapan pria gondrong itu. Dua menit ia dapat menemukan sosok Tarmo, pria jangkung kurus dengan sedikit tato di lengannya.
            “Ada apa bang, nyari aku?”
            “Gua ada bisnis ni sama lo! Lo mau nggak?” sergahnya.
            “bisnis apaan bang?”
            “Lo mau kagak? Kalo iya ntar gue kasih tau. Kita ketemu di warteg mak Ijah. Ok man!”
Sedikit ragu, Roy menerima uluran tangan Tarmo. Masih dengan sedikit kebingungan, tak disadarinya tarmo yang telah beranjak dari hadapannya.
            “Ngomong apa Dia” Bang Jon menepuk pundak Roy.
            “kagak tau tu bang, aneh! Ngajakin bisnis tapi kagak jelas mo bisnis apa’an. Aku diajak ketemuan di Warteg Mak Ijah malam ini.
            “Gue bukannaya mau ikut campur ni Roy, tapi gue minta lo ati-ati sama Bang Tarmo. Semua orang tau siapa Dia. Walaupon gua bajingan tapi gue kasiahn kalo lo ikutan yang nggak bener, udah tong tetep ngamen aja dari pada bisnis kagak jelas. Ingat jangan sampai urusan ame polisi. Bisa berabe! Kasihan emak lo yang udah tua.” Bang jon berkata panjang lebar. Ditepuk-tepuknya pundak Roy semabari berlalu menuju bus kota yang baru hendak berangkat.
                                                            ***
            Malam itu sesuai kesepakatan Roy menunggu Bang Tarmo di warung Mak Ijah. Sepuluh menit menunggu sambil mencomot pisang goren buatan mak ijah, bang Tarmo datang.
            “gua kira lo nggak datang Roy. Bagus!”Tarmo duduk di sebelah Roy.”
            “Maaf Bang aku nggak bisa lama-lama, tadi mak pesen suruh nyari obat. Asmanya kumat.”
            “santai aja, gini roy, bisnis yang gua tawarin ame lo tu bukan bisnis biasa jadi perlu pembicaraan empat mata”. Ujar tarmo sembari menirukan gaya tukul.
            “Emang apaan sih bang? Bikin penasaran.”
            “pokoknya dijamin menghsilkan omset lumayan dah, apalagi buat biaya mak lo yang sakit. Lu bialng tiap bulan harus keluar ratusan ribu.” Tarmo masih dengan gaya cengengesan.
            “Sini lo roy” Dibisikkannya telinga kanan Roy.
            Hampir saja roy terlonjak. Persis seperti dugaannya.”ma…ap bang kayaknya aye kagak bisa kalo yang satu ini.”katanya gugup.
            “Lo serius roy? Nggak mau terima tawaran gue? Tapi jangan nyesel ya, gue dah bermaksud baik tapi kalo lo nggak mau ya nggak apa-apa.
Masih dengan bimbang Roy berfikir keras antara setuju dan menolak. Satu persatu wajah Emak, bang jon berputar dalam memorinya. Dengan sangat gugup dan takut pada tarmo yang terkenal sebagai Bos preman terminal tempatnya mengais rizki. Lama dia tercenung sementara tarmo dengan gaya Bosnya memilin ujung Rambut gondrongnya.
            “Bang…aku…aku nggak berani bang. Sumpah. Aku memang perlu duit. Tapi tolong, jangan paksa ya bang ya? Tolong bang!” wajah Roy memelas.
            Sebenarnya jika tak ingat nasehat emak dan pesan bang Jon serta tak ada sebiji iman di dadanya mungkin Roy akan menerima tawaran bang tarmo karna saat ini dia sangat perlu uang. Ya uang.. semenjak bapaknya pergi, hidupnya dan mak semakin menggelandang. Emak setiap hari menjadi pemulung sampah sedangkan Dia ngamen kesana kemari sambil jualan Koran itupun belum tentu laku semua, pasalnya minat baca masyarakat masih sangat buruk dan prinsip ekonominya begitu ketat
            “Maapin ya bang, aku nggak bisa ikut bisnis abang .“
Dengan wajah kecewa yang tertahan Tarmo beranjak. “Oke deh kagak apa-apa! Tapi ingat Roy, kesempatan Cuma sekali. Lo tau itu. Gua masih kasih elu kesempatan sehari buat ngasih pertimbangan. Gue cabut Roy!!”
            “Iya Bang, ma..apin saya bang”.
Roy masih duduk di warung mak Ijah. Kebingungan benar-benar menghimptnya. Antara menerima dan menolak tawaran si bos preman, antara rasa iba pada emak dan pesan bang Jon.
            ”Mas Roy, kok melamun?” suara jawa mak Ijah membuyarkan angannya.
            ”Ah, enggak mak, Cuma agak pusing. Ya udah mak, saya pulang dulu.”
            ”monggo mas!” roy beranjak menuju rumahnya. Pemuda delapan belas tahun itu terlihat begitu tua, dengan wajah tirus, kedua bola mata cekung dan bibir yang menghitam . maklumlah, karena dia satu-satunya harapan sang emak yang sakit-sakitan dan kedua adiknya yang masih SD dan SMP.                               
                                                            ***
            “Ingat Roy, kalo gadis ini keluar dari sekolahnya elu, topan sama panji harus bergerak. Gue sama ponco nanti njemput kalian.
            Roy mengangguk. Tak ada pilihan! Semalam asma emak parah sampai-sampai pak kadir, tetangga kontrakan membawanya ke rumah sakit. Hatinya benar-benar tak kuasa dengan penderitaan emak.Dalam pikirannya saat ini hanya uang dan emaknya yang tengah terbaring tak berdaya. Emak harus sembuh! Apapun caranya, karna hanya emak yang ia miliki saat ini.
            ”Ayo Roy, cepat...!”ketiga pemuda itu segera menyergap seorang gadis SMP dan berlari menuju jeep hitam milik Tarmo.
            Roy masih mersakan getar takut itu, yah sebuah konspirasi penculikan putri Arman Sanjaya, pengusaha minyak sukses.
            Dipandanginya wajah gadis dihadapannya, ia ingat Ratri, adiknya yang hampir lulus SMP. ”Hh...seandainya aku tak terpaksa, pasti ini tak kan terjadi. Maafkan aku gadis manis.” roy berdiri dari kursinya. Malam ini waktu ia berjaga. Dua termannya telah lelap dalam mimpi.
            ”Mak, bagaimana nasibmu saat ini? Aku ingin berada di sisimu mak, menemanimu dalam kesenyapan rumah sakit. Tuhan, tolong sembuhkan emak” Desisnya pelan. Bulir beningpun tak kuasa menetes di sudut mata elangnya.
                                                            ***
”Emak, emak sudah sembuh?” pekik Roy tertahan. Didekatinya wanita paruh baya yang tengah duduk di dipan.
”Roy, anak emak, kau tak lupa dengan ajaran emak kan?” wanita itu memandangnya tajam.
Roy tertunduk.
”Kau tahu nak, emak tak ingin kau jadi manusia perusak, perampas kesenangan orang, pemisah anak dengan orang tuanya...hanya, hanya karena uang yang tak halal Roy. Kau ingat ajaran emak, bukan?”
”Mak, maafkan Roy, tapi Roy sayang sama emak dan Roy tak ingin melihat emak menderita” Roy tergugu.
”Kau bilang sayang pada emak, padahal kau menjerumuskan emak dengan nafkah tak halal yang kau berikan? Cukup Roy, tolong emak. Emak tak sanggup memikul tanggung jawab di hadapan Allah kelak. Berat Roy... Anakku, kembalilah nak, mak tak kan apa-apa. Ingat nak, jangan pernah kau buat emak menangis.”Emak menyeka air matanya.
”Makkkk....emak.....”roy menjerit tertahan. Hh...emak. dia terbangun. Keringat dingin membasahi bajunya. Emak, maafkan aku. Tapi aku sudah terlanjur terjun dalam masalah ini. Aku tak mungkin bisa lepas sebelum ini semua selesai.
”Tong...!” suara tarmo mengejutkannya.
”I..iya bang!”jawabnya terbata.
”Cepat lu siapin peralatan. Hari ini pengusaha kaya itu, Arman sanjaya akan menukar anaknya dengan uang. Ha....ha...kita kaya...gue akan kaya....ha..ha...” tarmo tertawa.
Roy masih membisu di tempatnya. Dipandanginya kembali gadis itu. Otakknya berputar mencari ide. Apa yang harus kulakukan Mak!
“Cepetan Roy!”teriak Tarmo.
Roy bergegas menuju gadis kecil itu. Tak tega, tapi segera dipapahnya gadis itu ke dalam mobil.
Dua jam kemudian, pertemuan besar itu terjadi, di sebuah lahan kosong di daerah pinggiran kota.
“Ingat Tuan Arman, jangan coba-coba melanggar kesepakatan. Nyawa putri anda di tangan kami. Haaa.....ha...ha...” klik. Tarjo memutus pembicaraan.
Di sudut lain. Seorang pria keluar dari mobilnya. Dia melangkah dengan tenang. Tania, semoga Allah melindungimu. Desisnya pelan. Pria itu berdiri teapat di depan sedan putihnya.
”Roy, lo keluar. Lu bawa gadis ini, trus lu ambil uang dari tangan si Bos minyak itu. Setelah lu dapat kopor itu lu lemparin ke ponco. Ponco akan siaga di belakang elu. Paham Roy. Ingat ini tugas pertama elu. Kalo kerja lu bagus. Gue jamin hidup lu akan berubah! ”
Roy keluar dari jeep. Dipapahnya gadis tak berdosa disebelahnya. Dia begitu gugup. Dengan sigap dia melangkah.
Untuk beberapa saat kemudian Roy dan Arman sudah berhadapan. Agak jauh di belakang Roy, Ponco dan Topan bersiaga, sementara Tarjo dan Panji menunggu di mobil tak jauh dari tempat Roy berdiri.
Bismillah ucap Roy. Dengan sigap diserahkannya gadis itu. Lalu diambilnya uang dalam koor hitam itu. Namun dia tak segera berbalik ke tempat Tarmo, tapi dia langsung berlari melompat ke dalam mobil Arman Sanjaya yang sengaja dibuka.
”Kurang ajar lo Roy!” tarmo berteriak. bersamaan dengan itu ponco menembakkan pistonya.
Dor...! darah segar keluar lambung kiri Roy tapi Arman Sanjaya berhasil menariknya masuk. Dan secepat kilat sedan itu melaju.
Nguing....nguing. baru saja jeep Tarmo akan berbalik arah tiba tiba polisi telah mengepung dari arah depan dan belakang.
”Kurang ajar! Awas kau Roy” tarmo mencoba berlari tapi sebuah peluru dengan cepat menembus dadanya. Tarmo tersungkur.
***
” Terima kasih Nak.” Arman Sanjaya berdiri di samping Roy yang terbaring.
”Saya yang harusnya berterima kasih sekaligus meminta maaf pada Bapak. Karena Saya putri bapak diculik” Roy terbata. Tubuhnya begitu lemah. Ia tak tau berapa lama kan bertahan.
”sudahlah Roy tak perlu begitu. Yang penting kau harus kuat, Yakinlah kau akan sembuh” Arman Sanjaya memeluk tangannya erat.
”Emak saya bagaimana Pak?” tanya Roy pelan.
”jangan kuatir, emakmu sudah diatasi dokter spesialis asma. Kondisinya mulai membaik.”
”Syukurlah...Pak, saya bisa minta tolong?”
”katakan Nak”
”Tolong sampaikan maaf saya pada emak. Walaubagaimanapun saya tidak akan melupakan ajaran emak karena saya sangat menyanyanginya melebihi diri saya sendiri” air mata Roy menetes. Seperti menahan rasa sakit yang begitu hebat, tubuh kurus itu meregang kemudian melemah.
”Roy...Roy...” Arman Jaya memegang erat yangan Roy yang tak berdaya lagi.
”Innalillahi wa inna Ilaihi Raji’un. Semoga kau diterima di SisiNya Roy.” Arman Sanjaya mengusap sudut matanya.
”Kau anak yang baik Roy, tapi sayang nasib baik belum berpihak padamu.” Arman ingat ketika tengah malam dia ditelpon seseorang yang ternyata Roy dan Roy jugalah yang menyusun strategi penyelamatan. Kala itu dia begitu gugup dan dia mengaku sedang disuruh membeli minuman oleh anak buah Tarmo sehingga bisa memanfaatkan waktu untuk menelepon Arman. Kebetulan pula dia menemukan nomor Arman di kartu nama yang ada pada tas Tania. Memang dia tak percaya, tapi dia coba ikuti apa yang direncanakan Roy dengan tetap hari-hati.
”Roy, aku akan memenuhi permintaan terkahirmua.” Ucapnya parau.
***
Sore yang mendung. Seorang wanita tua bersama gadis kecil berjongkok di depan sebuah pusara. Gundukan tanah merah di depannya masih basah, sebasah hatinya yng pilu. Tapi ada seulas senyum di sudut hatinya. Roy anak pertamanya telah pergi, tapi kepergian Roy bukan sbagai seorang penjahat seperti yang ia khawatirkan. Pergilah dengan tenang Nak, kau anak berbakti dan  Allah mengambilmu begitu cepat karena Dia tak ingin kau terwarnai oleh warna kehidupan yang semakin kelam dan menjerumuskan.
Ditaburkannya bunga yang ia bawa lantas ia berdo’a dengan khusuk.

                                                               *********************

Pesan Berantai



Pukul delapan pagi, tapi suasana masih sepi. Teman sekelasku pun belum ada yang datang padahal hari ini mata kuliah Pak Ilham, mata kuliah favoritku. Selain karena materinya yang asyik, dosennyapun menyenangkan. Pak Ilham, dosen yang bisa menyelipkan nasihat ketika mengajar.
Ruang kuliah masih kosong, aku duduk di urutan ke dua. Kupersiapkan catatan. Hah, kalo jam segini aja masih banyak yan telat gimana orang Indonesia mau maju. Aku menggerutu sendiri.
Sepuluh menit kemudian ’solos gank’ datang. Ada seto, dino, kiko,dan hamtaro. Kenapa dibilang solos itu karena mereka kumpulan orang  yang kalem, kalo ngomong  bisa bikin orang ngantuk saking halusnya. Ada lagi ‘gank haha’ yang aggotanya agak slank, mereka itu ada delapan orang yang dimanapun mereka berada selalu ber haha hihi kadang yang liat sampai stres. Dan yang paling suka molor adalah ‘gank ceria’, tiga cewek tomboi yang selalu menjadikan hidup ceria. Walaupun nggak ngerjain tugas dari dosen mereka selalu ceria. Kan ada contekan, tinggal copy paste beberapa menit jadi deh. Yah , dasar manusia-manusia aneh tapi gak semua nya aneh. Ada Alvin, Rio, Amin, angga, dan zidan.
Pak Ilham masuk, dan kuliah pun berjalan dengan tenang. Kali ini pak Ilham menyelipkan nasihat tentang perlunya menjaga kesehatan walaupun bukan jamannya SMP-SMA lagi tapi penting juga bagi maba yang masih berada pada masa transisi. Ada hal yang tak kuduga, ketika pak Ilham bertanya tentang mahasiswa yang merokok dan memerintahkan mereka angkat tangan, sepuluh orang mengaku. Yang lebih membuatku kaget adalah Amin, orang yang kuanggap hanif itu ternyata juga kena virus rokok. Astagfirullah, tak hentinya aku beristighfar. Bukan apa-apa, tapi sayang jika orang seperti dia harus merokok padahal dia calon anggota rohis juga. Apa jadinya rohis nanti? apakah tidak kian terpuruk jika para pengurusnya pandai berdakwah tapi masih melakukan hal yang subhat dan merusak kesehatan? Harus ada langkah penyembuhan para rokok mania. Rohis harus bertindak. Aku geram.

**********
Malam mulai merangkak, aku merebahkan badanku. Capek rasanya membuat laporan yang cukup banyak. Tapi baru jam sembilan untuk bergegas tidur. Tiba-tiba aku ingat kejadian siang tadi. Aku berfikir keras, apa yang harus kulakukan untuk membantu saudara-saudaraku di kelas?. Akhirnya  aku meminjam Nokia milik Tia dan mencoba dakwah lewat sms. Rasanya memulai gerakan penyadaran dari amin lebih tepat. Dia sudah kenal Rohis sejak SMA.
Ass.Wr.Wb. Sesungguhnya menjauhi apa yang tidak disunahkan oleh Allah Rasulnya itu lebih baik  bagi seorang muslim demi menjaga amanah dari Allah, menjaga kesehatan fisinya. Saudaraku sesungguhnya rokok itu tidak baik bagi kesehatan. Marilah kita jauhi pelan-pelan. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk bagi orang-orang yang berada di jalanNya.Wass. wr.wb.
Klik kutekan send dan beberapa saat kemudian terdengar report. Alhamdulillah lega rasanya. Semoga Allah menyadarkannya. Aku keluar bergabung dengan penghuni kos yang lain. Tapi baru beberapa menit mataku menatap layar televisi, Hp tia berbunyi.
”La, ini smsmu ya, kok nomornya baru?” Tia membuka inbox Hpnya.
“Mana-mana, coba liat.”
Tia menyodorkan Hpnya. ”Iya , terima kasih Tia cayang”
Syukron tapi ni siapa ya. Ane kgk tau no antum. Ane Amin tolong sebutin identitas Antm.
”Tia sayang aku minta satu sms lagi ya?”
”Iya- iya pakai aja”
Ini bukan siapa-siapa hanya saudara seiman. Semoga Allah merahmati hambaNya. Wass.wr.wb
Uh, rasanya BT klo mengingatkan nih orang. Perlu detail banget lagi. Yah orang cerdas terkadang terlalu banyak tanya sesuatu yang tidak perlu.
Tiba-tiba HP itu berbunyi lagi.
”Please...tolong sebutin sapa antm. Dlm dakwh, ga kenal maka ta’aruf.”
Hh... ta’aruf? susah juga berdakwah ma orang kayak gini. Bukannya mencerna isi taujih malah tanya pengirim. Tak kuhiraukan sms itu bahkan tak ada keinginan untuk membalasnya maka segera kukembalikan HP milik Tia.
”Makasih Ya”
”Ok.. deh”
Aku segera tidur. ”Ya Rabb semoga Engkau menjagaku dan memudahkanku untuk berdakwah serta memberi petunjuk pada teman-teman ku untuk menerima seruanMu.
************************
Pagi in aku dapat sms lagi, lagi-lagi lewat HP Tia. Aku jadi sungkan. Sudah seminggu ini si amin mengirim taujih, tapi tak kuhiraukan, malah Tia teman sekamarku yang senang dan merespon smsnya. Hingga suatu ketika, di suatu siang Tia mengirmi ku sms.
La, km tak tggu di perpus. Tia
Tumben ni anak serius, pikirku. Dan siang itu aku melihat mendung di wajahnya. “Ada apa Ya?”
“Kau tahu la, sms temanmu itu menjadikanku terkena fitnah”
aku kaget tapi tak tau harus berbuat apa.
“Fitnah tentang apa?”
“Dia bilang ke teman sekelasku kalo aku adalah pacarnya yang sellau menyuruhnya taubat dan menjadi manusia yang sholih. Aku kan malu La”
“Dari mana dia tau no Hpmu?”
“Anton, dia teman sekamar amin. Dan tadi pagi si anton berkoar-koar denagn gosip murahannya.”
“Kamu tenang Ya, aku akan cari solusinya. Sekarang kamu biarkan smsnya. Jangan dibalas. Key”
”makasih La”
Aku mengangguk dan segera beranjak. Otakku kembali berputar. Aku mendesah. Dasar amin, tak kusangka dia tipe orang seperti itu. Dikasih taujih bukan malah diambil hikmahnya untuk segera tobat malah ngelunjak. Akhi Wawan. Yah, kalo tidak salah beliau yang memegang mentoringnya si Amin.
Dengan cepat aku menelepon akhi wawan untuk membantu menyadarkan si amin.
*************************
Sebulan setelah gossip antara Tia dan amin mencuat akhirnya berhenti juga. Tia yang dirugikan dengan gosip ini mulai tenang.Aku si biang masalah jadi merasa bersalah. Kemarin akhi wawan memberikan penjelasan tentang amin yang ternyata masih amah dan baru mengenal rohis dua bulan menjelang lulus jadi pembinaan yang diperolehnya belum memadai.
Aku lega walau sempat pobia dengan sms taujih. Dan sejak itu pula aku sadar bahwa sms, apapun bentukya, walau taujih sekalipun jika tak hati-hati mengirimkannya bisa bahaya dan menimbulkan fitnah/ seketika aku teringat kata-kata mbak rahmah.
Antara laki-laki dan perempuan itu ada semacam magnet yang membuatnya tarik menarik. Apa lagi jika setan ikut campur untuk menjerumuskan manuasia. Maka dari itu Allah SWT menjaga kita dengan menurunkan sura An Nur 30-31 .” Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yangmerekaperbuat."(An Nuur: 30)
” Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.... Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur:31)
Subhanallah...Islam memang agama yang ajarannya paling sempurna. Aku tersenyum dan berdo’a semoga Allah senantiasa menjagaku dari fitnah.