Minggu, 18 Desember 2011

Ungu yang biru

Menghadiri pernikahan itu kan ada rasa tersendiri yang menggelayut di hati. menyaksikan dua insan yang melakukan mitsaqan ghalizha, yang kata seorang kawan adalah yudisium rasanya pasti ada haru syahdu apalagi ngeliat mempelai yang pada deg-degan di moment bersejarah dalam kehidupan mereka.

 Pernikahan dengan segala prosesinya, kemewahan dan pernak-perniknya adalah awal kehidupan sebenarnya dari sepasang manusia. Setelah momen ini maka mereka akan bersama mengarungi bahtera rumah tangga bersama, menyatukan visi-misi, menyamakan persepsi serta saling melengkapi. Menjadikan kekurangan masing-masing menjadi sebuah kesempurnaan serta menjadi jembatan bersatunya dua keluarga besar yang berbeda latar belakang agar tercipta harmony yang manis pula. Seperti seorang teman pernah menuliskan dalam status fbnya bahwa menikah itu bukan hanya menyatukan dua orang tapi dua keluarga, sehingga pasangan suami istri harus sama-sama saling menerima keluarga besar masing-masing. 

Dan, sulitnya masa pernikahan itu terkadang karena adanya interferensi mertua, karena tipe mertua itu kan beragam. Saya tidak sepakat dengan fenomena menantu cekcok dengan mertua atau apalah, apalagi jika mertua mempunyai anak laki-laki maka secara otomatis rasa memiliki anak pun masih melekat. Jadinya kadang si istri yang tidak nyaman. tapi, di sinilah si istri harus bijak menyikapi kondisi mertua yang beraneka rupa, baik itu yang tipe mendominasi atau lainnya.Maka yang menarik dari sebuah buku yang saya baca adalah, mertua itu sebnarnya ladang pahala buat kita setelah orang tua kita, mempersahabati orang tua dan mertua dengan ma'ruf pasti kan memberikan warna tersendiri dalam kehidupan pernikahan seseorang, menhadirkan ketenagan yang tentunya kan dirasakan bersama. (Nggak lucu kan kalo antara mertua tidak harmonis di belakang, hm...)

Yah walaupun agak ngelantur pembahasan ini tapi pernikahan yang kita saksikan kan selalu memberikan inspirasi dan pelajaran baru untuk kita ambil hikmahnya, dan realita di masyarakat terkadang tidak seperti apa yang ada dalam bayangan kita.Maka, bagi siapapun yang hendak menikah, maka mari  pelajarilah ilmu sebanyak-banyaknya tentang kehidupan pernikahan agar sedikit lebih siap jika jodoh itu datang, karena yang namanya pernikahan harus dipersiapkan dan di desain ketika niat untuk menikah itu tlah ada. karena pastinya tiap orang berharap suatu pernikahan yang sakinah, ma waddah wa rahmah...(pastinya..). Karena menikah itu adalah sunnah Rasulullah, maka agar yang sunnah itu kian barakah kitapun harus mendesainnya dengan barakah pula. mulai dari niat, karena seperti kita ketahui bahwa segala sesuatu itu dilihat atau dinilai dari niatnya. Aha, kembali pada niat, maka memituhkan niat itu yang sulit. menjaga niat ketika proses hingga akad itu yang terkadang mudah sekali terkontaminasi hal-hal yang seharusnya tidak ada.maka putihkan niat dan luruskan orientasi semata untuk menggapai ridhoNya. Luruskan niat saat ta'aruf, nadzar, khitbah hingga walimah, karena sesuatu keberkahan akan terwujud jika dibarengi dengan cara yang barakah pula..Dan memahamkan keluargapun adalah bagian dari tahap suksesnya granddesign yang kita buat...(ms)


**Hikmah dari sebuah walimah**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar